Bagaimana Pendapat Islam Tentang Perselisihan Hari Raya Kaum Muslimin..???

……………………………………………………………………………………………………..
SEBAGIAN PENDUDUK MELIHAT HILAL DZUL HIJJAH TETAPI TIDAK DIAKUI OLEH PEMERINTAH

Oleh
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
http://www.almanhaj.or.id/content/1652/slash/0

Pertanyaan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya : Tentang sebagian penduduk sebuah kota
melihat hilal Dzul Hijjah. Tetapi tidak diakui oleh pemerintah kota. Apakah
mereka berpuasa yang zhahirnya tanggal 9 (Dzul Hijjah), padahal yang sebenarnya
10 (Dzul Hijjah)?

Jawaban
Benar. Mereka harus berpuasa pada (tanggal) 9 yang secara zhahir diketahui
mereka, sekalipun hakikatnya pada (hari tersebut) adalah 10 (Dzul Hijjah), jika
memang ru’yah mereka benar. Sesungguhnya di dalam Sunnah (disebutkan) dari Abu
Hurairah, dari Nabi, Beliau bersabda.

“Artinya : Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa. Dan berbuka kalian,
ialah pada hari kalian berbuka. Dan hari penyembelihan kalian, ialah hari ketika
kalian (semua) menyembelih. [Dikeluarkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi
dan dishahihkannya]

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata : Rasulullah telah bersabda,
“(Idul) Fitri, (yaitu) ketika semua manusia berbuka. Dan Idul Adha, (yaitu)
ketika semua orang menyembelih” [Diriwayatkan oleh Tirmidzi]

Dan perbuatan ini yang berlaku di semua kalangan imam kaum muslimin. [Majmu
Fatawa 25/202]

Dalam permasalahan puasa, Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata : Saya
berpendapat bahwa masyarakat di setiap negeri berpuasa dengan pemerintahnya,
tidak berpecah belah, sebagian berpuasa dengan negaranya dan sebagian (lainnya)
berpuasa dengan negara lain –baik puasanya tersebut mendahului yang lainnya atau
terlambat- karena akan memperluas perselisihan di masyarakat, sebagaimana yang
terjadi di disebagian negara Arab. Wallahull Musta’an. [Tamamul Minnah,hal. 398]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya dari Asia Tenggara. Tahun
Hijriah kami terlambat satu hari dibandingkan dengan Kerajaan Arab Saudi. Dan
kami para mahasiswa- akan bersafar pada bulan Ramadhan tahun ini. Rasulullah
bersabda : “Puasalah kalian dengan melihatnya (hilal, -pen) dan berbukalah
kalian dengan melihatnya ….” Sampai akhir hadits. Kami telah memulai puasa di
Kerajaan Arab Saudi, kemudian akan bersafar ke negara kami pada bulan Ramadhan.
Dan di penghujung Ramadhan, puasa kami menjadi 31 hari. Pertanyaan kami,
bagaimana hukum puasa kami dan berapa hari kami harus berpuasa ?

Jawaban
Jika anda berpuasa di Saudi atau di tempat lainnya, kemudian sisanya berpuasa di
negara anda, maka berbukalah bersama mereka (yaitu berhari raya bersama mereka,
pen), sekalipun berlebih dari tiga puluh hari. (Ini) sesuai dengan sabda
Rasulullah.

“Artinya : Puasa adalah hari semua kalian berpuasa. Dan berbuka adalah ketika
semua kalian berbuka”

Akan tetapi jika tidak sampai 29 hari, maka hendaklah disempurnakan, karena
bulan tidak akan kurang dari 29 hari. Wallahu Waliyyut Taufiq

[Fatawa Ramadhan 1/145]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Jika telah pasti masuk bulan
Ramadhan di salah satu negara Islam, seperti Kerajaan Arab Saudi, dan
selanjutnya negara tersebut mengumumkannya, akan tetapi di negara yang saya
tempati belum diumumkan masuknya bulan Ramadhan, bagaimanakah hukumnya ? Apakah
kami berpuasa cukup dengan terlihatnya di Saudi ? Atau kami berbuka dan berpuasa
dengan mereka (negara saya, red), ketika mereka mengumumkan masuknya bulan
Ramadhan ? Begitu juga denan permasalahan masuknya bulan Syawal, yaitu hari
‘Ied. Bagaimana hukumnya jika dua negara berselisih. Semoga Allah membalas
dengan sebaik balasan dari kami dan dari kaum muslimin.

Jawaban
Setiap muslim, hendaklah berpuasa bersama dengan negara tempat ia tinggal, dan
berbuka dengannya, sesuai sabda Nabi.

“Artinya : Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa. Dan berbuka kalian,
ialah pada hari kalian berbuka. Dan hari penyembelihan kalian, ialah hari ketika
kalian (semua) menyembelih”

Wa Billahi Taufiq
[Fatawa Ramadhan 1/112]

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Jika telah pasti
masuknya bulan Ramadhan di suatu negara Islam, seperti kerajaan Arab Saudi,
sedangkan di negara lain belum diumumkan tentang masuknya, bagaimana hukumnya?
Apakah kami berpuasa dengan kerajaan ? Bagaimana permasalahan ini. Jika terjadi
perbedaan pada dua negara?

Jawaban
Setiap muslim berpuasa dan berbuka bersama dengan kaum muslimin yang ada di
negaranya. Hendaklah kaum muslimin memperhatikan ru’yah hilal di negara tempat
mereka tinggal di sana, dan agar tidak berpuasa dengan ru’yah negara yang jauh
dari negara mereka, karena mathla’ berbeda-beda. Jika misalkan sebagian muslimin
berada di negara yang bukan Islam dan di sekitar mereka tidak ada yang
memperhatikan ru’yah hilal –maka dalam hal ini- tidak mengapa mereka berpuasa
dengan kerajaan Arab Saudi.

[Al-Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan 3/124]

BAGAIMANA PENDAPAT ISLAM TENTANG PERSELISIHAN HARI RAYA KAUM MUSLIMIN, YAITU
IDUL FITHRI DAN IDUL ADH-HA?

Oleh
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta.

Pertanyaan.
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta ditanya : Bagaimana pendapat Islam
tentang perselisihan hari raya kaum muslimin, yaitu Idul Fithri dan Iedul Adh-ha
? Perlu diketahui, hal ini dapat menyebabkan berpuasa pada hari yang diharamkan
berpuasa, yaitu hari raya Iedul Fithri atau berbuka pada hari diwajibkan
berpuasa? Kami mengharapkan jawaban tuntas tentang permasalahan yang penting
ini, yang dapat kami jadikan alasan di hadapan Allah. Jika terjadi perselisihan,
kemungkinan bisa dua hari, (atau) kemungkinan tiga hari. Seandainya Islam
menolak perselisihan, bagaimana jalan yang benar untuk menyatukan hari raya kaum
Muslimin ?

Jawaban
Para ulama sepakat bahwa Mathla’ Hilal berbeda-beda. Dan hal itu diketahui
dengan panca indera dan akal. Akan tetapi mereka berselisih dalam memberlakukan
atau tidaknya dalam memulai puasa Ramadhan dan mengakhirinya. Ada dua pendapat :

Pertama.
Diantara imam fiqih berpendapat, bahwa berbedanya Mathla berlaku dalam
menentukan permulaan puasa dan penghabisannya.

Kedua.
Diantara mereka tidak memberlakukannya, dan setiap kelompok berdalil dengan
Kitab, Sunnah serta Qias

Dan kadang-kadang, kedua kelompok berdalil dengan satu nash, karena ada
persamaan dalam beristidlal (berdalil), seperti firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Barangsiapa diantara kalian yang menyaksikan bulan, maka berpuasalah”
[Al-Baqarah : 185]

FirmanNya.

“Artinya :Mereka bertanya tentang hilal. Katakanlah : Sesungguhnya ia adalah
penentu waktu bagi manusia” [Al-Baqarah : 189]

Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Berpuasalah kalian dengan melihatnya, dan berbukalah dengan
melihatnya”

Itu semua karena perbedaan mereka dalam memahami nash dalam mengambil istidlal
dengannya.

Kesimpulannya.
Permasalahan yang ditanyakan masuk ke dalam wilayah ijtihad. Oleh karenanya,
para ulama -baik yang terdahulu maupun yang sekarang- telah berselisih. Dan
tidak mengapa, bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal pada malam
ketiga puluh untuk mengambil hilal yang bukan mathla mereka, jika kiranya mereka
benar-benar telah melihatnya.

Jika sesama mereka berselisih juga, maka hendaklah mereka mengambil keputusan
pemerintah negaranya –jika seandainya pemerintah mereka Muslim. Karena,
keputusannya dengan mengambil salah satu dari dua pendapat, akan mengangkat
perselisihan. Dalam hal ini umat wajib mengamalkannya. Dan jika pemerintahannya
tidak muslim, maka mereka mengambil pendapat Majlis Islamic Center yanga ada di
Negara mereka, untuk menjaga persatuan dalam berpuasa Ramadhan dan shalat ‘Ied.

Semoga Allah memberi taufiq, dan semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada
Nabi, keluarga dan para sahabatnya.

Tertanda
Wakil Ketua : Abdur Razzaq Afifi
Anngota ; Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Mani
[Fatawa Ramadhan 1/117]

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun VIII/1425H/2004M, Dikutip Dari
Fatwa-Fatwa Seputar Hari Raya Dengan Pemerintah, Penyusun Artikel Armen Halim
Naro. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah, Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km 8,
Selokaton Gondangrejo – Solo]

APAKAH ORANG AFRIKA IKUT BERPUASA BERDASARKAN RU’YAH ORANG ASIA ?

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Apakah orang Afrika ikut
berpuasa berdasarkan ru’yah orang Asia, atau sebaliknya ?

Jawaban
Sebagai dasar dalam masalah ini, adalah perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam

“Artinya : Berpuasalah tatkala kalian melihatnya (hilal) dan berbukalah tatkala
kalian melihatnya”

Perintah dalam hadits ini adalah untuk umat (Islam) secara keseluruhan, baik
yang ada di timur ataupun di barat. Akan tetapi penerapan masalah ini kala itu
tidaklah semudah hari ini.
——- [1]
baginya penglihatannya, maka ini adalah perkataan mereka sebagai suatu ijtihad
yang memungkinkan mereka saat itu untuk melaksanakan perintah nabawy secara
umum.

Adapun hari ini, sangat dimungkinkan untuk menetapkan penglihatan hilal di
seluruh dunia hanya dalam waktu satu jam. Ketika telah terlihat maka wajib bagi
seluruh kaum muslimin yang mendengar berita ini untuk berpuasa. Ini lebih baik
bagi mereka daripada mereka berpecah belah dan terjadi banyak kekecauan di
berbagai negeri disebabkan karena ada yang berpuasa lebih dahulu dan ada yang
belakangan dan hal ini tidak mungkin lepas dari urusan pemerintah Islam. Maka
pemerintahlah yang wajib menyeragamkan awal puasa, sehingga selamatlah kaum
muslimin dari kekacauan ini.

[Disalin dari buku Majmua’ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarah, Edisi Indonesia
Fatwa-Fatwa Al-Bani, Penulis Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Penerjemah Adni
Kurniawan, Penerbit Pustaka At-Tauhid]
_________
Foote Note
[1]. Satu baris kalimat pada naskah aslinya terhapus. Namun sepertinya beliau
sedang mendiskusikan orang yang berdalil dengan hadits Kuraib dalam Shahih
Muslim untuk menguatkan pendapat bahwa masing-masing negeri melihat hilalnya
sendiri-sendiri, dan untuk kemudian berpuasa, atau berbuka sesuai dengan ru’yah
mereka tersebut, -pent

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: