Penetapan Shalat Ghaib dikalangan Kaum Muslimin…..?!

Ketika Sakaratul Maut datang Menjemput!

Sebuah renungan…

Segala puji bagi Allah I yang telah menyempurnakan agama-Nya dan dengan itu dia menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita serta meridhai Islam sebagai Agama. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad r beserta keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

‘

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyaa’:35)

Rasulullah r bersabda:

“Apalah artinya dunia bagiku. Tidaklah aku di di dunia ini melainkan seperti orang yang menaiki kendaraan dan berteduh di bawah sebatang pohon, lalu pergi dan meninggalkannya.”[1])

Kematian adalah sesuatu yang pasti akan menimpa setiap mahluk yang bernyawa, kondisi terberat akan yang di alami oleh manusia setelah ia dilahirkan, ini adalah awal dari ujian dan fitnah yang akan diterima sebelum ia bertemu dengan tuhannya kelak di Yaumil Akhir.

Kematian adalah sesuatu yang berat dan akan dialami semua mahluk, bahkan meski seorang Nabi dan Rasul pun merasakan kesulitan yang amat sangat, saat melewati masa sakaratul maut itu.

Dalam kitab Ar-Ri’ayah, al-Muhasibi membawakan sebuah riwayat sebagai berikut:

“Sesungguhnya Allah I telah berkata kepada Nabi Ibrahim u: “Wahai kekasih-Ku! Bagaimanakah engkau merasakan kematian? “Nabi Ibrahim menjawab: “Rasanya seperti besi tusukan daging yang panas membara, ditusukkan ke dalam kain wol yang masih basah, kemudian di cabut dengan paksa!”. Allah berkata: “Sesungguhnya kami telah meringankan kematian itu bagimu wahai Ibrahim!”.

Diriwayatkan ketika ruh Nabi Musa u bertemu dengan Allah I, Allah bertanya kepada-Nya: “Bagaimanakah engkau merasakan kematian?” Nabi Musa berkata: “Aku dapati seolah-olah diriku bagaikan seekor burung yang dilemparkan hidup-hidup kedalam kuali, tidak seketika mati sehingga dapat lega, tidak juga selamat sehingga dapat terbang melarikan diri.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Musa u berkata: “Aku dapati diriku bagaikan seekor kambing yang dikuliti hidup-hidup oleh tukang jagal.”

Nabi Isa u pernah berkata: “Wahai segenap Hawariyyin! Mohonlah kepada Allah agar ia meringankan sakaratul maut bagimu!.” Disebutkan dalam berbagai riwayat lain bahwa kematian itu lebih mengerikan sakitnya daripada ditebas dengan pedang, dibelah dengan gergaji atau dipotong dengan gunting. Didalam kitab Al-Hilyah, Al-Hafidz Abu Nu’aim membawakan sebuah hadits dari Makhlu dan Watsilah bin ‘Asqa’ dari Rasulullah r bahwa beliau bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya”! Menyaksikan Malaikat Maut itu lebih mengerikan daripada tebasan sebilah pedang”.

Sadarlah wahai orang yang tertipu!

Mengapa kamu masih riang bermain,

Terlena dengan angan-angan.

Padahal ajal di depan matamu!

Bukankah kamu mengetahui

Bahw ambisi manusia adalah lautan luas tak bertepi,

Bahteranya adalah dunia.

Maka berhati-hatilah jangan sampai karam!

Yakinlah! Bahwa kematian pasti menjengukmu

Bersama segala kepahitannya.

Ingatah detik-detik itu, ketika kamu memberikan wasiat,

Sedangkan anak-anak yang bakal menjadi yatim

Dan ibunya yang akan kehilangan suami tercinta

Menangis pilu berlinang air mata.

Ia tenggelam dalam lautan kesedihan,

Seraya memukul-mukul wajahnya.

Disaksikan para lelaki, padahal sebelumnya

Ia adalah mutiara yang tersimpan rapi.

Kemudian setelah itu, dibawalah kain kafan kepadamu.

Akhirnya diiringi isak tangis da derai air mata,

Jasadmu dikebumikan.

Bisa dibayangkan betapa beratnya prosesi kematian itu, bahkan para Nabi saja dengan segala kemuliaannya merasakan kesukaran yang amat sangat dalam menghadapinya, apalagi kita sebagai manusia biasa!

Cukuplah hadits Al-Bara’ bin Azib t dibawah ini sebagai Ibrah (pelajaran) bagi kita semua. Didalamnya sesebutkan seluruh perkara-perkara yang bakal dialami seorang insan sejak nyawanya dicabut malaikat maut sampai berada dikubur. Cobalah simak hadits ini sebagai berikut:

Dari Al-Bara’ bin Azib t ia berkata: ”Kami keluar bersama Nabi r melayat jenazah seseorang laki-laki Anshar, kami mengiringi jenazahnya sampai ke makam. Tatkala liang lahat sedang digali, Rasulullah r duduk dan kamipun duduk di sekeliling beliau, seakan-akan kepala kami dihinggapi seekor burung. Beliau mengais-ngais tanah dengan tongkat kayu yang ada ditangannya, lalu menengadahkan kepala beliau ke langit, lalu berkata: “Berlindunglah dari azab Allah I dari azab kubur”. (beliau mengulang ucapan itu dua atau tiga kali). Kemudian beliau berkata: “Apabila seorang hamba mukmin akan berpindah meninggalkan alam dunia dan berangkat menuju alam akhirat, akan turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit, berwajah putih berseri, raut wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kafan dan ramuan wewangian dari jannah, lalu duduk didekatnya, yang banyaknya sejauh mata memandang. “Kemudian datanglah malaikat maut, lalu duduk didekat kepalanya, seraya berkata: “Wahai jiwa yang baik! Keluarlah menemui ampunan Allah dan keridhaan-Nya. “Maka mengalirlah ruh itu. Begitu malaikat maut mengambil ruh itu, malaikat yang berwjah putih tadi tidak sedikitpun membiarkan nya sesaat pun berada ditangan malaikat maut, mereka langsung mengambil dan menyelimutinya dengan kain kafan dan ramuan tersebut.” Sehingga tercium bau semerbak darinya. Seperti bau minyak kesturi yang paling wangi di muka bumi. Selanjutnya beliau berkata: “Para malaikat membawa ruh itu ke langit; setiap mereka melewati rombongan malaikat yang ada dilangit itu, pasti bertanya: “Ruh siapakah yang semerbak harum ini?” Mereka menjawab: “Ruh si fulan anak si fulan” : dengan menyebutkan nama (gelar) terbaik yang pernah disandangnya di dunia: hingga mereka sampai dilangit dunia, dan mereka minta agar pintu langit dibukakan untuk mereka. Maka dibukakanlah pintu langit. Kemudian malaikat yang ada di tiap-tiap langit mengiringi ruh tersebut. Demikianlah hingga mereka sampai di langit ke tujuh. Allah I berkata: “tuliskanlah kitab amalan hamba-Ku di Illiyyiin, kemudian kembalikan ia ke bumi, sebab daripadanya mereka dijadikan dan kepadanya mereka dikembalikan dan daripadanya mereka akan dikembalikan sekali lagi.” Rasulullah r melanjutkan: “maka dikembalikanlah ruh itu ketubuhnya. Kemudian datanglah dua malaikat mendatanginya, lalu duduk disisinya dan berkata: ”Siapa Rabb (sesembahan) kamu?” Hamba Mukmin itu menjawab: “Rabbku adalah Allah!”. “Apakah Agamamu?” Tanya kedua malaikat itu. “agamaku adalah Islam” jawab hamba mukmin itu. “Siapakah orang ini, yang tela diutus kepadamu?” Tanya keduanya lagi. “Dia adalah Rasulullah!”. “Lalu ilmu apakah yang ada padamu tentang hal itu?” Tanya keduanya. Hamba mukmin itupun menjawab: “Aku telah membawa Al-Qur’an, aku beriman kepadanya dan membenarkannya!”. Kemudian berkumandanglah seruan dari langit: “Benarlah hambaku itu!”. hamparkanlah baginya tempat di jannah, berilah dia pakaian-pakaian dari jannah, dan bukalah baginya pintu ke jannah. Maka berhembuslah wangi-wangi jannah kepadanya, dan dilapangkanlah kuburnya sejauh mata memandang. Lalu datanglah kepadanya sorang yang berparas tampan, berpakaian elok dan beraroma harum, seraya berkata: “Bergembiralah menikmati aa yang kau senangi, inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu dulu. Hamba mukmin itu bertanya: “Siapakah anda?’ Wajah anda adalah wajah yang mendatangan kebaikan.” “Saya adalah amal kebaikanmu/Shalihmu!” jawabnya. Hamba mukmin itupun memohon: “Yaa Rabbku segerakanlah datangnya hari kiamat! Supaya aku dapat kembali kepada keluarga dan hartaku”.

Adapun seorang yang kafir, apabila ia akan berpisah meninggalkan alam dunia dan menuju alam akhirat, maka akan turunlah kepadanya malaikat dari langit, berwajah hitam legam dengan membawa kain wol yang kasar, lalu duduk disisinya, yang banyaknya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut lalu duduk dikepalanya seraya berkata: “Wahai jiwa  yang keji! Keluarlah kamu menuju kemurkaan Allah”. Maka tercerai berailah ruh itu didalam tubuhnya, lalu dicabut dengan paksa oleh malaikat maut seperti mencabut besi tusukan daging dari kain wol yang kasar lagi basah. Lalu malaikat maut mengambil ruh itu. Begitu alaikat maut mengambil ruh itu, malaikat yang berwajah hitam legam itu tidak membiarkannya sesaatpun berada ditangan malaikat maut, mereka pun langsung mengambilnya dan membungkusnya dengan kain wol yang kasar tadi, hingga menyebarlah bau busuk darinya seperti bau bangkai yang paling busuk di muka bumi. Mereka pun membawanya naik kelangit. setiap mereka melewati rombongan malaikat yang ada dilangit itu, pasti ditanya: “Ruh siapakah yang berbau busuk ini?” “Ruh si fulan anak si fulan” : dengan menyebutkan nama (gelar) terburuk yang pernah disandangnya di dunia. Kemudian sampai ke langit dunia, mereka minta agar dibukakan pintu langit didunia baginya, namun tidak dibukakan! Lalu Rasulullah r membacakan ayat:

”Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”. (QS. Al-A’raaf: 40)

Lalu Allah I berkata: ”Tuliskanlah kitab amalan orang itu di Sijjiin, yaitu dilapisan bumi yang paling bawah. Lantas ruhnya dilemparkan begitu saja. Kemudian Rasulullah r membacakan ayat

”Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”. (QS. Al-Hajj: 31)

Maka dikembalikanlah ruh yang busuk itu ketubuhnya. Kemudian datanglah dua malaikat mendatanginya, lalu duduk disisinya dan berkata: ”Siapa Rabb (sesembahan) kamu?” “Apakah Agamamu?” Tanya kedua malaikat itu. Orang kafir itu menjawab: “Hah…Hah…, aku tidak tahu!”. “Siapakah orang ini, yang tela diutus kepadamu?” Tanya keduanya lagi. “Hah…Hah…, aku tidak tahu!”. Jawabnya. Kemudian berkumandanglah seruan dari langit: Orang itu telah berdusta!”. Siapkanlah tempatnya di Neraka, dan bukalah baginya pintu ke neraka”. Maka datanglah hawa panas dan gejolak Neraka kepadanya dan disempitkan kuburnya sehingga tulang-tulang rusuknya remuk bertimpang tindih. Kemudian datang lah kepadanya orang yang berwajah buruk, berpakaian jelek, dan berbau busuk, seraya berkata: ”Rasakanlah semua yang membuatmu tersiksa, inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu.” Orang kafir itu bertanya: ”Siapakah anda? Wajah anda adalah wajah yang mendatangkan kesialan”. ”Aku adalah amal jahatmu”. Jawabnya. lalu orang kafir itu memelas sambil berkata: ”Yaa Tuhanku janganlah engkau segerakan datangnya hari kiamat!”[2]

Ini adalah awal dari perjalanan panjang manusia ketika akan menghadap rabbnya mulai dari sakaratul maut, datangnya dua orang malaikat ke dalam kubur untuk bertanya kepada si mayyit hingga dikumpulkannya seluruh umat manusia di Padang Mahsyar.

Dalam kondisi seperti ini sebagai seorang Muslim, hal terakhir yang bisa kita lakukan adalah menunaikan dengan baik segala kewajiban yang datang kepada kita saat kondisi seperti ini menimpa kita atau orang lain seperti menunaikan hak-hak kaum muslimin seperti mendo’akannya, berkunjung dalam rangka berta’ziyah, memandikan (jika tidak ada sanak famili yang melaksanakannya), menshalatkannya serta mengiringi jenazahnya hingga dikuburkan. karena selain bisa mendapat ibroh/pelajaran yang besar juga memiliki keutamaan dengan ganjaran pahala yang besar pula, Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah r:

“Barangsiapa yang menghadiri penyelenggaraan jenazah hingga ia ikut menyalatkannya, maka ia memperoleh pahala satu qirath. Adapun yang menghadirinya sampai jenazah itu dikebumikan, maka ia mendapat pahala dua qirath. Ditanyakan kepada beliau: apakah dua qirath itu? Beliau menjawab: “seperti dua gunung besar”.[3])

Sungguh kematian adalah sesuatu yang besar, hingga penyambutan terhadap kematian itupun menjadi sesuatu yang besar, karena berbagai keutamaan yang bisa kita dapatkan, mulai dari orang yang tertimpa kematian itu sendiri hingga orang yang yang hanya ikut menghadirinya. Sehingga ritual ibadah yang dilakukan pun haruslah sesuai dengan apa-apa yang telah ditetapkan oleh syari’at, dalam hal ini adalah Allah I dan Rasul-Nya, karena seutama-utama ibadah yang diterima Allah I haruslah dengan ke ikhlasan dan contoh yang benar dan datangnya dari Rasulullah serta para sahabatnya.. Saat ini banyak sekali ritual-ritual ibadah yang dikaitkan dengan syari’at islam padahal itu bukan berasal dari Islam atau terkadang ada ibadah-ibadah yang seharusnya tidak perlu dilakukan tapi dilakukan, salah satu contohnya dalam penyelenggaraan shalat jenazah yang sedang marak saat ini adalah shalat ghaib. Berikut ini saya jelaskan sedikit tentang Shalat Ghaib.

Pensyariatan Ibadah shalat Ghaib

Sering kali kita temukan pada kebanyakan kaum muslimin pada penyelenggaraan jenazah, ketika jenazah selesai dishalatkan dan dikuburkan, pada sebagian orang ada yang kembali menshalatkan secara terpisah (dimana jenazah tidak berada dekat orang yang menshalatkan), dimana shalat ini dinamakan shalat Ghaib.

Hal inilah yang sering kali kita temukan dan dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin di Negara ini, tapi apakah perkara-perkara ibadah ini benar-benar sesuai dengan Syari’at yang sudah ditetapkan oleh Allah I dan Rasulullah r serta para sahabat-Nya?

Pertanyaannya adalah apakah Shalat Ghaib itu? Menurut hukum Syara’, Shalat Ghaib merupakan Shalat jenazah yang dilakukan oleh kaum muslimin secara berjamaah, dengan catatan apabila jenazah tersebut sama sekali belum dishalatkan karena beberapa hal, misalnya tidak ada yang menshalatkan, karena tidak ada kaum muslimin yang tinggal di negeri tersebut.

Hal ini berdasarkan shalat Ghaib yang dilakukan oleh Rasulullah terhadap Raja an-Najasyi (raja Habasyah (sekarang Ethiopia, negeri yang masih kafir) yang masuk islam kemudian menyembunyikan keislamannya), seperti yang diriwayatkan oleh sejumah sahabat beliau, yang sebagian saling menambahkan sebagian lainnya.

Dari Redaksi Abu Hurairah t adalah sebagai berikut:

Bahwasannya Rasulullah r (yang saat itu beliau sedang berada di Madinah) pernah mengumumkan berita kematian an-Najasyi (Ashhamah) (raja Habasyah) kepada orang-orang pada hari kematiannya. (Beliau berkata: “Sesungguhnya saudara kalian telah meninggal dunia. Dan dalam sebuah riwayat disebutkan: Pada hari ini, hamba Allah yang shalih telah meninggal dunia) (di luar daerah kalian) (karenanya hendaknya kalian menshalatinya). “(Mereka berkata: “Siapakah dia itu?” Beliau menjawab: an-Najasyi.”) (Beliau bersabda: “Mohonkanlah ampunan kepada saudara kalian ini”). Perawi hadits ini pun bercerita: Maka beliau berangkat ke tempat shalat (dan dalam sebuah riwayat disebutkan: ke kuburan al-Baqi’). (Setelah itu, beliau maju dan mereka pun berbaris dibelakang beliau (dua barisan) (dia bercerita: “Maka kami pun membentuk shaff di belakang beliau sebagaimana shaff untuk shalat jenazah dan kami pun menshalatkannya sebagaimana yang dikerjakan atas seorang jenazah). Dan tidaklah jenazah itu melainkan diletakkan di hadapan beliau). “(Dia bercerita: “Maka kami pun bermakmum dan beliau menshalatkanya). Seraya bertakbir atasnya sebanyak empat kali.”[4])

Dikatakan bahwa: “Di dalam hadits-hadits tersebut terdapat dalil dari beberapa sisi yang yang tidak lagi menyembunyikan bahwa an-Najasyi Ashhamah adalah seorang Muslim. Hal tersebut diperkuat oleh kenyataan bahwasannya ada nash yang sharih mengenai dirinya yang membenakan kenabian Nabi Muhammad. Maka Abu Musa al-Ash’ary menceritakan:

Rasulullah r memerintahkan kami untuk berangkat kenegeri an-Najasyi lalu mereka menyebutkan kisah tersebut yang didalamnya sebagai berikut dan an-Najasyi mengatakan: “Aku bersaksi bahwa beliau adalah Rasul Allah. Dan bahwasannya beliau lah yang menjadiberita gembira yang disampaikan oleh ‘Isa putera Maryam. Seandainya aku tidak mengemban kerajaan, niscaya aku akan mendatanginya untuk membawakan kedua sandalnya.”[5])

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata dalam kitabnya Zaadul Ma’aad (I/205 dan 206):

Bukan petunjuk dan Sunnah Rasulullah untuk mengerjakan shalat Ghaib bagi setiap orang yang meninggal. Sebab, cukup banyak kaum muslimin yang meninggal dunia sedang mereka jauh dari Rasulullah, namun beliau tidak menshalatkan mereka dengan shalat ghaib. Dan diriwayatka secara shahih dari beliau bahwa beliau telah menshalatkan shalat jenazah atas an-Najasyi.

Pendapat lain mengatakan:

1. Yang demikian merupakan syari’at sekaligus sunnah bagi ummat islam untuk mengerjakan shalat Ghaib atas setiap muslim yang meninggal dunia di tempat yang jauh. Dan ini merupakan pendapat Syafi’I dan Ahmad.

2. Abu Hanifah dan Malik mengatakan; ‘Yang demikian itu khusus baginya saja dan tidak untuk yang lainnya.

3. Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ‘Yang benar adalah bahwa orang yang bertempat tinggal jauh dan meninggal dunia di Negara yang tidak ada seorang pun yang menshalatkannya di negara tersebut, maka dia peru dishalatkan dengan shalat Ghaib, sebagaimana yang pernah dilkukan oleh Nabi atas jenazah an-Najasyi, karena dia meninggal dunia di tengah-tengah orang-orang kafir dan tidak ada orang yang menshalatkannya. Seandainya dia sudah dishalatkan di tempat dia meninggal dunia, maka dia tidak dishalatkan dengan shalat Ghaib atas jenazahnya. Sebab kewajiban itu telah gugur dengan shalatnya kaum muslimin atas dirinya. Dan Nabi mengerjakan shalat Ghaib dan kemudian meninggalkannya. Sedang apa yang beliau kerjakan dan apa yang beliau tinggalkan merupakan Sunnah. Hanya Allah yang maha tahu. Dalam mazhab Ahmad terdapat tiga pendapat yang paling shahih di antaranya adalah rincian ini.’

Perlu disampaikan bahwa: an-Najasyi adalah seorang Muslim yang telah beriman kepada Rasulullah dan membenarkan kenabian beliau, hanya saja dia menyembunyikan keimanannya. Dan seorang Muslim jika meninggal dunia, maka kaum muslimin berkewajiban untuk menshalatkannya, kecuali jka dia berada ditengah-tengah kaum kafir, sedang tidak ada seorang pun disekitarnya yang menshalatkannya, sehingga Rasulullah r mengharuskan diri untuk mengerjakan shalat  tersebut. Demikian –wallahu ‘alam- sebab yang mnedorong Nabi untuk mengerjakan shalat dari kejauhan (shalat Ghaib) .

Berdasarkan hal, tersebut jika ada seorang Muslim meninggal dunia di salah satu Negara, lalu kewjiban shalat jenazah atas dirinya sudah ditunaikan, maka tidak perlu lagi orang lain yang berada di Negara itu atau di negara lain untuk menshalatkan shalat Ghaib untuknya. Dan jika dia mengetahui bahwa yang meninggal tersebut tidak dishalatkan karena adanya rintangan atau alas an yang menghalanginya, maka disunnahkan untuk menshalatkannya dan hal itu tidak boleh ditinggalkan hanya karena dengan alasan jarak yang jauh.

Dan jika mengerjakan shalat atas jenazahnya, maka mereka harus menghadap kiblat dan tidak perlu menghadap kearah Negara jenazah itu berada jika arah Negara itu terletak tidak searah dengan arah kiblat.

Dan diantara yang memperkuat tidak disyari’atkannya shalat Ghaib bagi setiap orang yang meninggal ditempat yang jauh adalah riwayat yang menyebutkan, ketika para sahabat t dari kalangan khulafaur rasyidin para tabiut tabiin dan yang lainnya meningga dunia, tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang mengerjakan shalat Ghaib atas jenazah mereka. Seandanya ada dari mereka yang mengerjakan hal tersebut tentunya banyak sekali nukilan-nukilan/perkataan-perkatan ataupun atsar yang menyebutkan hal itu dan tentunya jika ada beritanya maka hal tersebut benar-benar mutawatir.

Sekarang bandingkanlah hal tersebut dengan apa yang sekarang banyak dilakukan oleh kaum muslimin sekarang ini, di mana mereka mengerjakan shalat ghaib bagi setiap orang yang meninggal baik tempatnya dekat maupun tempatnya yang jauh, padahal sebelumnya sudah pernah dilakukan shalat jenazah, apalagi jika orang tersebut memiliki kedudukan dan nama baik sekalipun hanya dari sisi politik saja dan tidak diketahui kepedulian dan pengabdiannya terhadap islam. Bandingkan apa yang telah disebutan dengan shalat yang seperti ini, niscaya secara yakin anda akan mengetahui bahwa yang demikian itu bagian dari bid’ah (perkara-perkara baru yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah dan para sahabatnya) dan tidak memiliki hubungan dengan sunnah Rasulullah dan madzhab para sahabat serta orang-rang yang mengikutinya. Allahu a’lam (Dion_ahmad)

Maraa’ji

Al-Qur’anul Kariim. Al-Qur’an Edisi Terjemahan Wakaf  kerajaan Saudi Arabia,

Ahkaamuj Janaaiz, Hukum dan Tata Cara Mengurus Jenazah menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Pustaka Imam Syafi’i.. Bogor. 2005 M.

Al-Wijaazah fii Tajhiizil Janaaiz. Bimbingan Lengkap Penyelenggaraan Shalat Jenazah. Abdur Rahman bin Abdullah Al-Ghaits. Pustaka At-Tibyan. Solo. 2003 M

Do’a dan Wirid , mengobati guna-guna dan sihir menurut Al-Qur’an dan as-Sunnah. Yazid bin Abdul Qadir Jawwas. Pustaka Imam Syafi’i. Bogor. 2004 M.

Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, Dasar-dasar ‘Aqidah Menurut Ulama Salaf. Abdul Akhir Hammad Al-Ghunaimi. Pustaka At-Tibyan. Solo. 2002 M

www.almanjah.or.id


[1] Hadits shahih riwayat Ibnu Majah No. 4109

[2] HR. Ahmad didalam Musnadnya.

[3] HR. Bukhari dan Muslim

[4] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (III/90, 145, 155, dan 157), Muslim (III/54), dan lafadz di atas miliknya juga Abu Dawud (II/68 dan 69), an-Nasaa’I (I/265 dan 280), Ibnu Majah (I/467), al-Baihaqi (IV/49), at-Thayalisi (2300), Ahmad (II/241, 280, 289, 348, 438, 439, 479, 539) melalui beberapa jalan dari Abu Hurairah.

[5] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Baihaqi dishahihkan oleh syaikh albani dalam kitabnya ahkamuj janaaiz,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: