Ketika Sakaratul Maut datang Menjemput!

Segala puji bagi Allah I yang telah menyempurnakan agama-Nya dan dengan itu dia menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita serta meridhai Islam sebagai Agama. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad r beserta keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyaa’:35)

Rasulullah r bersabda:

“Apalah artinya dunia bagiku. Tidaklah aku di di dunia ini melainkan seperti orang yang menaiki kendaraan dan berteduh di bawah sebatang pohon, lalu pergi dan meninggalkannya.”[1])

Kematian adalah sesuatu yang pasti akan menimpa setiap mahluk yang bernyawa, kondisi terberat akan yang di alami oleh manusia setelah ia dilahirkan, ini adalah awal dari ujian dan fitnah yang akan diterima sebelum ia bertemu dengan tuhannya kelak di Yaumil Akhir.

Kematian adalah sesuatu yang berat dan akan dialami semua mahluk, bahkan meski seorang Nabi dan Rasul pun merasakan kesulitan yang amat sangat, saat melewati masa sakaratul maut itu.

Dalam kitab Ar-Ri’ayah, al-Muhasibi membawakan sebuah riwayat sebagai berikut:

“Sesungguhnya Allah I telah berkata kepada Nabi Ibrahim u: “Wahai kekasih-Ku! Bagaimanakah engkau merasakan kematian? “Nabi Ibrahim menjawab: “Rasanya seperti besi tusukan daging yang panas membara, ditusukkan ke dalam kain wol yang masih basah, kemudian di cabut dengan paksa!”. Allah berkata: “Sesungguhnya kami telah meringankan kematian itu bagimu wahai Ibrahim!”.

Diriwayatkan ketika ruh Nabi Musa u bertemu dengan Allah I, Allah bertanya kepada-Nya: “Bagaimanakah engkau merasakan kematian?” Nabi Musa berkata: “Aku dapati seolah-olah diriku bagaikan seekor burung yang dilemparkan hidup-hidup kedalam kuali, tidak seketika mati sehingga dapat lega, tidak juga selamat sehingga dapat terbang melarikan diri.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Musa u berkata: “Aku dapati diriku bagaikan seekor kambing yang dikuliti hidup-hidup oleh tukang jagal.”

Nabi Isa u pernah berkata: “Wahai segenap Hawariyyin! Mohonlah kepada Allah agar ia meringankan sakaratul maut bagimu!.” Disebutkan dalam berbagai riwayat lain bahwa kematian itu lebih mengerikan sakitnya daripada ditebas dengan pedang, dibelah dengan gergaji atau dipotong dengan gunting. Didalam kitab Al-Hilyah, Al-Hafidz Abu Nu’aim membawakan sebuah hadits dari Makhlu dan Watsilah bin ‘Asqa’ dari Rasulullah r bahwa beliau bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya”! Menyaksikan Malaikat Maut itu lebih mengerikan daripada tebasan sebilah pedang”.

Sadarlah wahai orang yang tertipu!

Mengapa kamu masih riang bermain,

Terlena dengan angan-angan.

Padahal ajal di depan matamu!

Bukankah kamu mengetahui

Bahw ambisi manusia adalah lautan luas tak bertepi,

Bahteranya adalah dunia.

Maka berhati-hatilah jangan sampai karam!

Yakinlah! Bahwa kematian pasti menjengukmu

Bersama segala kepahitannya.

Ingatah detik-detik itu, ketika kamu memberikan wasiat,

Sedangkan anak-anak yang bakal menjadi yatim

Dan ibunya yang akan kehilangan suami tercinta

Menangis pilu berlinang air mata.

Ia tenggelam dalam lautan kesedihan,

Seraya memukul-mukul wajahnya.

Disaksikan para lelaki, padahal sebelumnya

Ia adalah mutiara yang tersimpan rapi.

Kemudian setelah itu, dibawalah kain kafan kepadamu.

Akhirnya diiringi isak tangis da derai air mata,

Jasadmu dikebumikan.

Bisa dibayangkan betapa beratnya prosesi kematian itu, bahkan para Nabi saja dengan segala kemuliaannya merasakan kesukaran yang amat sangat dalam menghadapinya, apalagi kita sebagai manusia biasa!

Cukuplah hadits Al-Bara’ bin Azib t dibawah ini sebagai Ibrah (pelajaran) bagi kita semua. Didalamnya sesebutkan seluruh perkara-perkara yang bakal dialami seorang insan sejak nyawanya dicabut malaikat maut sampai berada dikubur. Cobalah simak hadits ini sebagai berikut:

Dari Al-Bara’ bin Azib t ia berkata: ”Kami keluar bersama Nabi r melayat jenazah seseorang laki-laki Anshar, kami mengiringi jenazahnya sampai ke makam. Tatkala liang lahat sedang digali, Rasulullah r duduk dan kamipun duduk di sekeliling beliau, seakan-akan kepala kami dihinggapi seekor burung. Beliau mengais-ngais tanah dengan tongkat kayu yang ada ditangannya, lalu menengadahkan kepala beliau ke langit, lalu berkata: “Berlindunglah dari azab Allah I dari azab kubur”. (beliau mengulang ucapan itu dua atau tiga kali). Kemudian beliau berkata: “Apabila seorang hamba mukmin akan berpindah meninggalkan alam dunia dan berangkat menuju alam akhirat, akan turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit, berwajah putih berseri, raut wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kafan dan ramuan wewangian dari jannah, lalu duduk didekatnya, yang banyaknya sejauh mata memandang. “Kemudian datanglah malaikat maut, lalu duduk didekat kepalanya, seraya berkata: “Wahai jiwa yang baik! Keluarlah menemui ampunan Allah dan keridhaan-Nya. “Maka mengalirlah ruh itu. Begitu malaikat maut mengambil ruh itu, malaikat yang berwjah putih tadi tidak sedikitpun membiarkan nya sesaat pun berada ditangan malaikat maut, mereka langsung mengambil dan menyelimutinya dengan kain kafan dan ramuan tersebut.” Sehingga tercium bau semerbak darinya. Seperti bau minyak kesturi yang paling wangi di muka bumi. Selanjutnya beliau berkata: “Para malaikat membawa ruh itu ke langit; setiap mereka melewati rombongan malaikat yang ada dilangit itu, pasti bertanya: “Ruh siapakah yang semerbak harum ini?” Mereka menjawab: “Ruh si fulan anak si fulan” : dengan menyebutkan nama (gelar) terbaik yang pernah disandangnya di dunia: hingga mereka sampai dilangit dunia, dan mereka minta agar pintu langit dibukakan untuk mereka. Maka dibukakanlah pintu langit. Kemudian malaikat yang ada di tiap-tiap langit mengiringi ruh tersebut. Demikianlah hingga mereka sampai di langit ke tujuh. Allah I berkata: “tuliskanlah kitab amalan hamba-Ku di Illiyyiin, kemudian kembalikan ia ke bumi, sebab daripadanya mereka dijadikan dan kepadanya mereka dikembalikan dan daripadanya mereka akan dikembalikan sekali lagi.” Rasulullah r melanjutkan: “maka dikembalikanlah ruh itu ketubuhnya. Kemudian datanglah dua malaikat mendatanginya, lalu duduk disisinya dan berkata: ”Siapa Rabb (sesembahan) kamu?” Hamba Mukmin itu menjawab: “Rabbku adalah Allah!”. “Apakah Agamamu?” Tanya kedua malaikat itu. “agamaku adalah Islam” jawab hamba mukmin itu. “Siapakah orang ini, yang tela diutus kepadamu?” Tanya keduanya lagi. “Dia adalah Rasulullah!”. “Lalu ilmu apakah yang ada padamu tentang hal itu?” Tanya keduanya. Hamba mukmin itupun menjawab: “Aku telah membawa Al-Qur’an, aku beriman kepadanya dan membenarkannya!”. Kemudian berkumandanglah seruan dari langit: “Benarlah hambaku itu!”. hamparkanlah baginya tempat di jannah, berilah dia pakaian-pakaian dari jannah, dan bukalah baginya pintu ke jannah. Maka berhembuslah wangi-wangi jannah kepadanya, dan dilapangkanlah kuburnya sejauh mata memandang. Lalu datanglah kepadanya sorang yang berparas tampan, berpakaian elok dan beraroma harum, seraya berkata: “Bergembiralah menikmati aa yang kau senangi, inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu dulu. Hamba mukmin itu bertanya: “Siapakah anda?’ Wajah anda adalah wajah yang mendatangan kebaikan.” “Saya adalah amal kebaikanmu/Shalihmu!” jawabnya. Hamba mukmin itupun memohon: “Yaa Rabbku segerakanlah datangnya hari kiamat! Supaya aku dapat kembali kepada keluarga dan hartaku”.

Adapun seorang yang kafir, apabila ia akan berpisah meninggalkan alam dunia dan menuju alam akhirat, maka akan turunlah kepadanya malaikat dari langit, berwajah hitam legam dengan membawa kain wol yang kasar, lalu duduk disisinya, yang banyaknya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut lalu duduk dikepalanya seraya berkata: “Wahai jiwa  yang keji! Keluarlah kamu menuju kemurkaan Allah”. Maka tercerai berailah ruh itu didalam tubuhnya, lalu dicabut dengan paksa oleh malaikat maut seperti mencabut besi tusukan daging dari kain wol yang kasar lagi basah. Lalu malaikat maut mengambil ruh itu. Begitu alaikat maut mengambil ruh itu, malaikat yang berwajah hitam legam itu tidak membiarkannya sesaatpun berada ditangan malaikat maut, mereka pun langsung mengambilnya dan membungkusnya dengan kain wol yang kasar tadi, hingga menyebarlah bau busuk darinya seperti bau bangkai yang paling busuk di muka bumi. Mereka pun membawanya naik kelangit. setiap mereka melewati rombongan malaikat yang ada dilangit itu, pasti ditanya: “Ruh siapakah yang berbau busuk ini?” “Ruh si fulan anak si fulan” : dengan menyebutkan nama (gelar) terburuk yang pernah disandangnya di dunia. Kemudian sampai ke langit dunia, mereka minta agar dibukakan pintu langit didunia baginya, namun tidak dibukakan! Lalu Rasulullah r membacakan ayat:

”Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”. (QS. Al-A’raaf: 40)

Lalu Allah I berkata: ”Tuliskanlah kitab amalan orang itu di Sijjiin, yaitu dilapisan bumi yang paling bawah. Lantas ruhnya dilemparkan begitu saja. Kemudian Rasulullah r membacakan ayat

”Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”. (QS. Al-Hajj: 31)

Maka dikembalikanlah ruh yang busuk itu ketubuhnya. Kemudian datanglah dua malaikat mendatanginya, lalu duduk disisinya dan berkata: ”Siapa Rabb (sesembahan) kamu?” “Apakah Agamamu?” Tanya kedua malaikat itu. Orang kafir itu menjawab: “Hah…Hah…, aku tidak tahu!”. “Siapakah orang ini, yang tela diutus kepadamu?” Tanya keduanya lagi. “Hah…Hah…, aku tidak tahu!”. Jawabnya. Kemudian berkumandanglah seruan dari langit: Orang itu telah berdusta!”. Siapkanlah tempatnya di Neraka, dan bukalah baginya pintu ke neraka”. Maka datanglah hawa panas dan gejolak Neraka kepadanya dan disempitkan kuburnya sehingga tulang-tulang rusuknya remuk bertimpang tindih. Kemudian datang lah kepadanya orang yang berwajah buruk, berpakaian jelek, dan berbau busuk, seraya berkata: ”Rasakanlah semua yang membuatmu tersiksa, inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu.” Orang kafir itu bertanya: ”Siapakah anda? Wajah anda adalah wajah yang mendatangkan kesialan”. ”Aku adalah amal jahatmu”. Jawabnya. lalu orang kafir itu memelas sambil berkata: ”Yaa Tuhanku janganlah engkau segerakan datangnya hari kiamat!”[2]

Ini adalah awal dari perjalanan panjang manusia ketika akan menghadap rabbnya mulai dari sakaratul maut, datangnya dua orang malaikat ke dalam kubur untuk bertanya kepada si mayyit hingga dikumpulkannya seluruh umat manusia di Padang Mahsyar.

Dalam kondisi seperti ini sebagai seorang Muslim, hal terakhir yang bisa kita lakukan adalah menunaikan dengan baik segala kewajiban yang datang kepada kita saat kondisi seperti ini menimpa kita atau orang lain seperti menunaikan hak-hak kaum muslimin seperti mendo’akannya, berkunjung dalam rangka berta’ziyah, memandikan (jika tidak ada sanak famili yang melaksanakannya), menshalatkannya serta mengiringi jenazahnya hingga dikuburkan. karena selain bisa mendapat ibroh/pelajaran yang besar juga memiliki keutamaan dengan ganjaran pahala yang besar pula, Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah r:

“Barangsiapa yang menghadiri penyelenggaraan jenazah hingga ia ikut menyalatkannya, maka ia memperoleh pahala satu qirath. Adapun yang menghadirinya sampai jenazah itu dikebumikan, maka ia mendapat pahala dua qirath. Ditanyakan kepada beliau: apakah dua qirath itu? Beliau menjawab: “seperti dua gunung besar”.[3])


[1] Hadits shahih riwayat Ibnu Majah No. 4109

[2] HR. Ahmad didalam Musnadnya.

[3] HR. Bukhari dan Muslim

Maraa’ji

Al-Qur’anul Kariim. Al-Qur’an Edisi Terjemahan Wakaf  kerajaan Saudi Arabia,

Ahkaamuj Janaaiz, Hukum dan Tata Cara Mengurus Jenazah menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Pustaka Imam Syafi’i.. Bogor. 2005 M.

Al-Wijaazah fii Tajhiizil Janaaiz. Bimbingan Lengkap Penyelenggaraan Shalat Jenazah. Abdur Rahman bin Abdullah Al-Ghaits. Pustaka At-Tibyan. Solo. 2003 M

Do’a dan Wirid , mengobati guna-guna dan sihir menurut Al-Qur’an dan as-Sunnah. Yazid bin Abdul Qadir Jawwas. Pustaka Imam Syafi’i. Bogor. 2004 M.

Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, Dasar-dasar ‘Aqidah Menurut Ulama Salaf. Abdul Akhir Hammad Al-Ghunaimi. Pustaka At-Tibyan. Solo. 2002 M

www.almanjah.or.id

2 Comments (+add yours?)

  1. yallasri
    Mar 14, 2010 @ 09:03:10

    bisanggakkirimi saya berita menarikini ?

    Reply

  2. yallasri
    Mar 14, 2010 @ 09:03:42

    bia nggak kirimi saya berita menarik ini ?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: