kaos kaki akhwat… perhatikanlah…!

Perhatikan KAOS KAKI-mu ya Ukhti……….

Ada apa nih dengan kaos kaki…?

ketika ada seputar jawaban dari seorang ustadz dan pemandangan sehari-hari, sedikit pertanyaan bener ga sih kaos kaki itu mesti dipakai oleh akhwat…? Perlu ga sih buat nutupin aurat…? Banyak banget pertanyaannya sih… oke biar ga bingung mari kita teliti ada apa sebenarnya dengan kaos kaki saudari- saudari kita para wanita Muslimah ini….?

Pertanyaan pertama,

Apakah kaus kaki wajib bagi akhwat…?

Jawabannya

Apakah kaos kaki sudah memenuhi syarat dari jilbab, insya Allah semua pertanyaan2 ini akan terjawab satu persatu. Mari simak baik-baik…

1. Masalah aurot akhwat/wanita….?

Seperti yang kita tau bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua telapak tangannya, Dasarnya baca deh firman Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nuur ayat 31 dan surat Al-Ahhzab ayat 59

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[*] ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[*] Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya : “Janganlah kaum wanita menampakkan sedikitpun dari perhiasan mereka kepada pria-pria ajnabi, kecuali yang tidak mungkin disembunyikan.” Ibnu Masud berkata : Misalnya selendang dan kain lainnya. “Maksudnya adalah kain kudung yang biasa dikenakan oleh wanita Arab di atas pakaiannya serat bagian bawah pakaiannya yang tampak, maka itu bukan dosa baginya, karena tidak mungkin disembunyikan.”

Imam Al-Qurthubi berkata : Pengecualian itu adalah pada wajah dan telapak tangan. Yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah bahwa Asma binti Abu Bakr menemui Rasulullah sedangkan ia memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah berpaling darinya dan berkata kepadanya : “Wahai Asma ! Sesungguhnya jika seorang wanita itu telah mencapai masa haid, tidak baik jika ada bagian tubuhnya yang terlihat, kecuali ini.” Kemudian beliau menunjuk wajah dan telapak tangannya. Allah Pemberi Taufik dan tidak ada Rabb selain-Nya.”

Kesimpulannya jelas ya, bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuh mereka kecuali pada wajah dan telapak tangan. Catat baik-baik dan marikita simak penjelasan selanjutnya.

2. Masalah batasan ditutupnya aurat bagi wanita

Sesungguhnya batasan ditutupnya aurat bagi wanita adalah dari ujung kepala hingga ujung telapak kaki mereka, bukan sampai mata kakinya, adalah hal ini telah dijelaskan oleh Nabi kita yang mulia shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits dari Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ath-Tirmidzi, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena angkuh, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat”. Lantas Ummu Salamah bertanya:”lalu bagaimana yang mesti dilakukan oleh kaum wanita dengan bagian ujung pakaiannya?” Beliau menjawab: “Hendaklah mereka menjulurkannya satu hasta!” (hingga sampai mata kaki). Ummu salamah berkata lagi: kalau begitu telapak kaki mereka terbuka/terlihat jadinya.“ Lalu Nabi berkata: ”Kalau begitu hendaklah mereka menurunkannya satu hasta, dan jangan lebih dari itu!” (hadits sahih Riwayat Tirmidzi (III: 47)).

Pertanyaan, kalo begitu pakaian yang dipakai para wanita akan kotor jika berjalan karena terkena tanah atau debu atau Nazis/kotoran yang ada dijalan?

Mari kita jawab dengan perkataan Rasaulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dari Imam Malik dan ulama hadits lainnya Rahimahullah meriwayatkan hadits dari ummu walad ibrahim bin Abdurrahman bin auf bahwasannya ia pernah bertanya kepada ummu salamah, istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya saya ini seorang wanita yang panjang bagian bawah pakaianku, sedangkan aku berjalan di tempat yang kotor. Bagaimana ini?” Ummu Salamah menjawab: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Tempat yang sesudahnya itu mensucikannya.”

Dari riwayat yang lain bahwa ada seorang wanita dari Bani Abdul Ashal ia berkata: Aku pernah berkata: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya jalan yang kami tempuh menuju masjid itu berbau busuk. Lalu bagaimana yang harus kami lakukan jika usia hujan (karena akan kotor jika terkena pakaian)?” Beliau berkata: ”Bukankah setelah jalan yang berbau busuk itu ada lagi jalan yang lebih baik (lebih bersih) darinya?” Wanita itu berkata: Aku menjawab: ”Betul” Lalu Nabi bersabda: ”Nah, yang ini menjadi penghapus yang itu.” Isnad hadits ini sahih diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya no 407 dan 408.

Dari sini semakin jelas bahwa batasan dari aurat wanita adalah dari ujung kepala hingga ujung telapak kaki dan bukan sampai mata kaki….! Seperti yang kita lihat pada pakaian para wanita muslimah yang menjulur dari atas hanya sampai mata kaki atau diatasnya hingga terlihat jelas kaki-kaki para wanita tersebut.

3. Kaos kaki…. Apakah sudah memenuhi syarat menutup aurat?

Semakin menarik…. Mari kita bahas sedikit lagi… salah satu syarat dalam mengenakan jilbab adalah tidak ketat dan membentuk lekukan tubuh, coba kita simak dalilnya:

Yang namanya menutup itu tidak akan terwujud kecuali harus tebal. Jika tipis, maka hanya akan memancing fitnah/godaan dan berarti menampakkan perhiasannya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

Pada akhir zaman akan ada dari umatku nanti wanita-wanita yang berpakaian namun hakekatnya telanjang. Dikepala mereka seperti terdapat bongkol punuk unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk.” (HR. Ath-Tabhrani Syaikh Albani menyatakan sanad hadits ini sahih).

Dalam hadits lain terdapat tambahan:

Mereka tidak akan masuk syurga dan juga tidak akan memperoleh baunya, padahal baunya syurga itu dapat dicium sejauh dari perjalan sekian dan sekian.” (HR. Muslim).

Ibnu Abdil Barr berkata: “Yang dimaksud Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pada hadits diatas adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat menggambarkan bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutupi atau bahkan menyembunyikannya artinya oleh manusia terlihat lakukan-lekukan bentuk tubuhnya. Mereka itu tetap berpakaian akan tetapi pada hakekatnya telanjang.”

Dari Abdullah bin Abu Salamah, bahwasannya Umar bin Al-khattab pernah memakai baju Qibthiyah (jenis pakaian khas Mesir yang tipis dan berwarna putih), kemudian Umar berkata: “janganlah kamu pakaikan baju itu untuk istri-istrimu!” seseorang kemudian bertanya: “Wahai Amirul Mukminin! Telah saya pakaikan ia kepada istriku, dan telah aku lihat di rumah baik dari depan maupun dari belakang, tapi aku tidak melihatnya sebagai pakaian yang tipis!” Maka Umar menjawab: “Sekalipun tidak tipis, tapi dia (pakaian itu) dapat menggambarkan lekukan tubuh.” (dikeluarkan dari Ibnu Sa’d dan Ibnu Hibban).

Usamah bin Zaid pernah berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah memberiku baju Quthbiyah yang tebal yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku : “Mengapa kamu tidak mengenakan baju Quthbiyah ?” Aku menjawab : Aku pakaiakan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda : “Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Quthbiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya.” (Ad-Dhiya Al-Maqdisi dalam Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441; Ahmad dan Al-Baihaqi dengan sanad Hasan). Aisyah pernah berkata : Seorang wanita dalam shalat harus mengcenakan tiga pakaian : Baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab dengannya. (Ibnu Sa’d VIII/71).

Catatan penting pada bahasan ini adalah perkataan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang perlu kita perhatikan dengan seksama adalah “Mengapa kamu tidak mengenakan baju Quthbiyah ?” Aku menjawab : Aku pakaiakan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda : “Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Quthbiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya/bentuk tubuhnya.” Dalam riwayat Ahmad dan Al-Baihaqi tersebut ditegaskan bahwa pakaian wanita tidak boleh tipis harus tebal dan tidak menggambarkan bentuk tulangnya/bentuk tubuhnya.

Dan dapat dikatakan dari penjelasan-penjelasan dari Hadits dan atsar-atsar para sahabat menyatakan bahwa pakaian-pakaian yang tipis atau yang dapat menggambarkan lekukan-lekukan tubuh didalam syariat Islam adalah terlarang dan Haram hukumnya memakai pakaian-pakaian tersebut.

Kaos kaki apakah sudah memenuhi salah satu syarat jilbab yang telah ditentukan? Tidak tipis, tebal dan tidak menggambarkan bentuk tulangnya/bentuk tubuhnya…

Ada baiknya juga kita membaca dan merenungi apa yang diriwayatkan oleh Ummu Ja’far binti Muhammad binti Ja’far bahwasannya Fatimah binti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata:

”Wahai Asma’! Sesungguhnya aku memandang buruk apa yang dilakukan oleh kaum wanita yang mengenakan baju yang dapat menggambarkan bentuk tubuhnya.” Asma berkata: ”Wahai putri Rasulullah ! Maukah kuperlihatkan kepadamu sesuatu yang pernah kulihat di negeri Habbasyah?” lalu Asma’ membawakan beberapa pelepah daun kurma yang masih basah, kemudian ia bentuk menjadi pakaian lantas dipakai. Fatimah pun berkomentar: ”betapa baiknya dan betapa eloknya baju ini, sehingga wanita dapat dikenali/dibedakan dari laki-laki dengan pakaian itu. Jika aku nanti sudah mati, maka mandikanlah aku wahasi asma’ bersama Ali (dengan pakaian penutup seperti itu) dan jangan ada seorangpun yang menengokku!” Tatkala Fatimah meninggal dunia, maka Ali bersama Asma’ yang memandikannya sebgaimana yang dipesankannya.” (dikeluarkan oleh Abu Nuaim, Baihaqi dan Ath-Tabhrani)

Perhatikanlah sikap Fatimah Radhiallahu anha yang merupakan bagian dari tulang rusuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana ia memandang buruk bilamana seuah pakaian itu dapat mensifati atau menggambarkan tubuh seorang wanita meskipun ia sudah mati, apalagi jika masih hidup, tentunya akan jauh lebih buruk lagi!. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimah pada zaman ini merenungi hal ini, pakailah pakaian se syar’i mungkin terutama buat mereka-mereka yang mengenakan pakaian yang sempit dan ketat yang dapat menggambarkan lekukan-lekukan tubuh mereka mulai dari kaki, perut, lengan maupun kepala-kepala mereka. Selanjutnya hendaklah mereka beristigfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya serta selalu akan ingat kepada sabda Nabi:

”Perasaan malu dan iman itu keduanya selalu bertalian. Manakala salah satunya lenyap, maka lenyaplah pula yang lainnya lagi.” (Imam al-Haitsami dalam majma az-Zawaahizd)

Saya yakin dari penjelasan tadi pertanyaan diatas sudah bisa dijawab oleh anda sendiri yang membaca tulisan ini…

Nah kalo hukumnya seperti ini maka kesimpulan yang dapat kita ambil:

1. aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali yang biasa nampak padanya yaitu muka dan telapak tangan.

2. batasan aurat bagi wanita adalah dari seluruh atas kepala/ujung kepala hingga ujung telapak kaki wanita bukan sampai mata kaki atau diatasnya.

3. kaos kaki belum bisa dikatakan sebagai alat yang dapat menutup aurat, karena syarat-syarat jilbab belum terpenuhi, tapi bukan berarti kaos kaki terlarang untuk dipakai, kaos kaki boleh dipakai jika jlbab yang dipakai oleh wanita sudah memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya yaitu hingga sampai ujung telapak kaki atau dibawahnya. Allahu a’lam bishowab.

Dion

Source:

Al-Quranul kariim

Jilbab Al-Marah Al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah dikarang oleh  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany Rahimahullah.

www.forsitekbrawijaya.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: