BAHAYA IMUNISASI BAGI ANAK ANDA

BAHAYA IMUNISASI BAGI ANAK ANDA


Berikut adalah kisah nyata yang dialami sebuah keluarga , sebagai informasi / pelajaran bagi rekan-rekan jika suatu saat ada yang menghadapi ujian seperti yang mereka alami, bacalah kisah mereka semoga bermanfaat bagi kita semua :

Pada pertengahan bulan Juni 2005, Istri saya melahirkan dengan baik
(walau dengan operasi caesar), bayi kami sehat tidak kurang suatu
apapun, beratnya 3.150 Kg dengan panjang 49 Cm. Sekali lagi Kami sangat bahagia atas peristiwa ini. Kembali Segala saran-saran dokter (Dokter Anak: Prof. “R” di RS “A”) kami laksanakan dengan baik, minum vitamin-vitamin, susu ibu menyusui, menjaga kesehatan makanan/perlengkapan makan, makan makanan bergizi, menjaga
pantangan-pantangan dalam merawat bayi. dan rutin melakukan Imunisasi.

Disinilah mulai timbul bencana pada keluarga kami, pada saat anak/bayi
kami berusia +/- 7 bulan, untuk kesekian kalinya kami datang untuk
imunisasi, pada saat itu kami datang ke dr Anak kami Prof. “R” di RS “A”
, namun pada saat itu beliau tidak masuk, diganti oleh dokter
pengganti/wanita yang masih muda/mungkin dokter baru (namun saya lupa
namanya). Begitu melihat jadwal pada buku RS anak saya, dokter tersebut
langsung siap melakukan imunisasi terhadap anak saya, “hari ini
imunisasi HIB ya ?!” , saya & istri tahu bahwa imunisasi HIB tersebut
salah satunya untuk mencegah radang Otak, makanya Istri saya sempat
bertanya, “dok, seandainya imunisasi ini tidak dilakukan bagaimana ya
?!”, lalu dokter pengganti tersebut menjawab dengan nada agak ketus,
“apakah ibu mau, anak ibu jadi Idiot?! (sambil memperagakan tampang muka
orang yang idiot dengan lidah dijulurkan keluar)” . Karena begitu
sayangnya kami dengan anak kami, sudah barang tentu kami tidak mau anak
kami idiot, lagi pula saya saat itu berfikir demi kesehatan anak kami
tentulah kami menuruti apa kata dokter yang lebih tahu/berpengalaman
dengan imunisasi tersebut. Lalu tanpa memeriksa dengan seksama kondisi
anak kami dalam keadaan fit/tidak, dan perlu tidaknya imunisasi tersebut
kembali diberikan kepada anak saya (karena sebelumnya pada saat berumur
+/- 5 bulan anak kami telah pernah diberikan imunisasi HIB I) dokter
pengganti tersebut langsung memberikan suntikan imunisasi HIB II kepada
anak saya.


Dua hari setelah pemberian imunisasi HIB yang kedua tersebut anak kami
mengalami panas, lalu turun, panas lagi lalu turun ( 2 atau 3 hari
sekali pasti mengalami panas ) dan anehnya panasnya hanya dikepala dan
di pundak/leher serta di ketiak saja, badan/tangan dan kakinya tidak.
Hal ini berlangsung +/- selama dua minggu, jika sedang panas, panasnya
pernah sampai
40,6 derajat C.

Sewaktu di kantor saya sempat bertanya kepada rekan-rekan yang
masih/pernah punya anak kecil mengenai panas anak saya, banyak diantara
mereka yang bilang panas setinggi itu berbahaya, malah sebagian teman
bilang anaknya panas “cuma” 38 derajat C saja sudah Step/kejang-kejang,
namun sampai hari itu anak saya belum pernah Step/kejang-kejang, padahal
panasnya beberapa kali sampai 40 derajat C, dan biasanya akan turun
dengan sendirinya, paling-paling hanya rewel, susah tidur. Saya mulai
Panik dan khawatir, takut jika anak saya tiba-tiba kejang/step di rumah.

Dan Saya mulai ke dokter, kebetulan di dekat rumah ada dokter Umum di
RS.
“D” ( Berhubung waktu itu hari minggu tidak ada dokter Spesialis anak
yang Buka ). Dokter tersebut memberikan beberapa macam obat, ada yang
syrup, ada yang serbuk. Setelah memakan obat-obatan tersebut selama 3
hari, anak kami masih belum membaik ( panasnya masih naik turun ), lalu
kami ke RS “A”
tempat dokter anak saya Prof. “R” dimana selain diberi obat-obatn juga
disarankan untuk memeriksakan darah anak saya ke Lab. (waktu itu saya
langsung periksakan anak saya ke Lab. “P” yang sudah berpengalaman),
Karena setelah kami ketahui hasilnya “negatif/tidak ada penyakit” dan
obat dari Prof. “R” di RS “A” juga belum efektif menyembuhkan panas anak
saya, akhirnya saya membawa anak saya ke RS “B” Cikini ( karena saya tahu di RS “B” ada ruang perawatan anak, jika memang anak saya perlu di
rawat).

Di sinilah ketabahan/kesabaran kami di uji. Saya datang pertama kali ke
RS “B” cikini, Kamis 17 Maret 2005 pagi +/- jam 7.00 Wib, dan setelah
bertanya kesana-kemari saya langsung membawa anak saya ke UGD (Unit
Gawat Darurat) karena masih pagi, dan disana ada dokter jaga, setelah
dilakukan beberapa tindakan lalu +/- jam 08.30 saya bawa anak saya ke
dokter Spesialis anak dr.”N”, baru kemudian diminta untuk di bawa ke ruang perawatan untuk di
rawat.

Pintarnya RS, setiap mereka akan melakukan tindakan medis terhadap anak
kami, kami/orang tua harus menyetujui terlebih dahulu tindakan tersebut,
dengan catatan apabila orang tua pasien tidak menyetujui suatu tindakan
medis, kami juga disodorkan surat penolakan tindakan medis, yang
didalamnya tertera apabila terjadi apa-apa terhadap anak saya, maka
pihak RS tidak bertanggung jawab karena tindakan medis yang akan mereka
lakukan tidak disetujui. Itu artinya kami/pasien bagai memakan buah
simalakama, dan tentunya harus mengikuti semua langkah-langkah medis
yang dilakukan oleh pihak RS, karena memang tidak ada pilihan lain.

Anak saya langsung di infus dan diambil darahnya untuk pengecekan
(karena hasil cek darah yang saya bawa dari Lab “P” sebelumnya menurut
pihak RS bisa berubah) walaupun akhirnya hasilnya juga masih “negatif” tidak diketahui
penyebab/penyakit panas anak saya. Kemudian atas anjuran dokter anak
saya harus puasa dari jam 15.00 (tiga sore) sampai dengan 21.00
(sembilan malam) kerena akan diambil darahnya lagi untuk pemeriksaan.
Selama waktu tersebut kami sedih melihat anak saya, walaupun ada infus
di kakinya, namun anak saya tampak ingin makan/minum, namun kami tidak
berikan walau mulutnya seperti orang yang kehausan. Kami sangat
mengkhawatirkan fisik anak saya.

Benar saja apa yang Saya dan Istri saya khawatirkan terjadi, esokan
hari/Jum’at subuh begitu panas anak saya kembali tinggi sampai lebih
dari 40 derajat C, anak saya langsung kejang/Step (padahal sewaktu di
rumah belum pernah sekalipun anak saya kejang/Step seperti saat itu),
suster-suster RS mulai memberikan anak saya Oksigen melalui selang ke
hidung, dan karena panas/Kejangnya lebih dari 1/2 jam, maka anak saya
pagi itu juga langsung di bawa ke ruang ICU/PICU (Pedriatic Intensive
Care Unit). Anak saya di diagnosa awal “kemungkinan” terkena Radang Otak
yang disebabkan oleh Virus/bakteri, sehingga mengganggu fungsi
pengaturan suhu tubuh. Dan dokter bilang kemungkinan sembuhnya hampir
tidak ada, kalaupun sembuh akan ada efek sisa, misalnya jadi Idiot,
Lumpuh, dsb. (Pihak RS langsung Pesimistis untuk penyembuhan anak saya).

Di ICU anak saya di rawat oleh Tim Dokter, dengan ketua Timnya yaitu dr.
“Y”
(dokter spesialis anak senior RS “B”), dengan anggota beberapa dokter
Spesialis THT, Syaraf, Urologi, Bedah, dsb. Ditambah dengan
dr.Konsulen/semacam penasihat, yaitu Prof. “A” dari RS “C”, selain
dokter tim tersebut dibantu oleh beberapa orang suster yang dalam sehari
bekerjanya dibagi menjadi 3 shift, suster-suster inilah yang memonitor
perkembangan kesehatan anak kami tiap saat. Suster juga sama seperti
karyawan di kantor kita, ada yang teliti, ada yang rajin, ada yang
baru/belum berpengalaman, ada yang text book, ada yang kurang berani
bertindak, dsb.

Sabtu subuh (hari ke dua perawatan) anak saya kembali panas tinggi dan
kembali kejang, kali ini suster jaga pada saat itu terlihat kurang
tanggap/cekatan dalam memberi tindakan terhadap anak saya, malahan pada
saat kejang, karena tenaga medis tidak begitu “care”, Istri saya sendiri
yang harus mengganjal mulut anak saya dengan alat pengganjal agar
lidahnya tidak tergigit, dan karena terlalu lama tidak ditangani dengan
baik akibatnya anak saya semakin lemah, terlihat pada mesin yang
memonitor Oksigen dan Jantung anak saya saturasinya (istilah mesin tsb)
terus menurun. Pada saat tim Dokter datang kondisi anak saya sudah
memburuk, bahkan pada layar monitor mesin saturasi sempat terlihat
“Flat”, artinya paru-paru/oksigen dan jantung anak saya telah berhenti
bergerak. Saya dan Istri langsung Shock dan lemas tangis pun tak
terbendung. Beberapa tenaga medis terus berusaha memompa secara manual
nafas anak saya, lalu mereka segera memasang mesin Ventilator/alat bantu
pernafasan (mesin yang sama dengan yang digunakan Almh. Sukma Ayu) dan
menyalakannya. Seperti biasa pihak RS menyodorkan surat persetujuan
tindakan pemasangan mesin tsb. Pada saat itu saya & istri sangat Shock,
sehingga konsentrasi kami hanya kepada anak kami tersebut, oleh karena
saya tidak begitu memperdulikan surat persetujuan melakukan tindakan
yang disodorkan RS, akibatnya pihak RS langsung mencopot kembali
selang-selang yang terpasang dan mematikan mesin/listrik Ventilator tsb.
Kami kesal dan marah (walau hanya di dalam hati), lalu segera meraih
surat persetujuan tindakan tsb dan menandatanganinya, barulah alat
tersebut kembali dipasang/dinyalakan, dan selamatlah nyawa anak saya
ketika itu (padahal menurut hemat saya hitungannya hanya detik untuk
mengambil keputusan tersebut/terlambat sedikit mungkin akan berbeda
ceritanya).

Kurang lebih dua minggu alat Ventilator itu terpasang, dan dua minggu
itu pula kami mengalami pengalaman yang sangat pahit dalam kehidupan
kami, kami menyaksikan betapa tersiksanya anak yang kami sayangi yang
terus menerus dilakukan tindakan medis, diantaranya :

1. Diambil darahnya yang hampir setiap hari (dengan cara disedot dengan
alat suntik), walaupun hasil Lab.-nya selalu negatif dengan jumlah
pengambilan dalam sehari bisa 3X, dan dalam sekali ambil antara 5 – 10
CC darah, padahal kondisi anak saya ketika itu sangat lemah/terlihat
kuning seperti kurang darah. Diambil sampel Urine, sampel cairan dari
perut, Bahkan sampai diambil contoh cairan otaknya
(melalui penyedotan
pada ruas tulang belakang) walaupun hasilnya juga negatif.

2. Berganti-ganti tempat untuk memasukan jarum Infus, dari vena-vena di
kepala, tangan, kaki, selangkangan, malah karena Tim medis sudah
kesulitan memasukan jarum infus, tim medis melakukan tindakan Vena
Sectio (operasi kecil/merobek kulit/daging terluar) untuk dicari
pembuluh vena yang berada agak ke dalam agar jarum infus dapat memasukan
cairan infus ke tubuh anak saya. Kedua pergelangan tangan dan kaki anak
saya telah di-Vena Sectio.

3. Bius Total, dengan alasan takut mesin Ventilator tidak berfungsi
dengan baik apabila anak saya dalam keadaan sadar.

4. Diberi obat-obatan/anti biotik berganti-ganti sesuai
indikasi/kemungkinan (Baru kemungkinan/seperti coba-coba) penyakitnya
yang kadarnya tergolong keras, yang sudah pasti banyak efek sampingnya.

5. Karena sudah tidak ada tempat untuk Infus dan pengambilan darah
(semua titik venanya telah habis), beberapa kali tindakan
infus/pengambilan darah tidak berhasil dilakukan, lalu dicoba lagi dan
di coba lagi sehingga menimbulkan bekas luka lebam/biru/bekas-bekas
jarum suntik yang sangat banyak.

6. Dilakukan foto Thorax (Rongent) beberapa kali, Padahal sekali saja
dilakukan di yakini dapat membunuh banyak sel tubuh )

7. Timbul efek samping, Paru-paru anak saya meradang/infeksi sehingga di
penuhi banyak cairan, dan kepala belakang dan samping kiri
memar/luka/lecet/bengkak. Karena terlalu lama dalam posisi tidur/di bius
(hal ini seharusnya tidak perlu terjadi kalau tim medis sering merubah
posisi tidur anak saya/setelah kami Complain baru hal ini dilakukan).

8. Masalah Biaya. Sering kali pihak RS (dokter/suster), menanyakan
masalah biaya, walaupun berkali-kali saya katakan ada surat jaminan
pembayaran dari Kantor. ( Coba bayangkan seandainya memang kami tidak
punya biaya).

9. Diagnosa penyakit yang tidak didukung bukti yang pasti, tim Medis
hanya selalu mengatakan “Kemungkinan”. Dari +/- satu bulan di rawat,
anak saya sudah beberapa kali dikatakan kemungkinan penyakitnya
bersumber dari Radang Otak karena penyakit/Virus/bakteri: Herpes,
berubah Toxoplasma, berubah Maningitis, berubah Ensevalitis
, sampai
kesimpulan terakhir/dari sampel darah terakhir anak saya masih belum
mengetahui pasti penyebab penyakitnya (bukti lab. adanya virus/bakteri
tersebut tidak pernah ada).

Pada masa itu juga kami sempat beberapa kali bersitegang dengan beberapa
Tim Medis anak saya, namun kami selalu kalah (mengalah) karena posisi
kami sangat lemah, Ketua tim dokternya “dr.Y” sempat berujar bahwa
mereka dokter-dokter ahli, ” kalau di RS “C” bapak boleh bilang
“begitu”, karena banyak dokter muda yang sedang belajar disana”
(maksudnya menanggapi guman saya dengan istri saya, “kok anak kita
seperti kelinci percobaan ya
!? dan kata-kata tersebut didengar Suster,
yang lalu melaporkannya ke ketua Tim
dokternya) , bahkan dokter itu juga sempat berkata ” kalau bapak tidak
puas, silahkan angkat anak bapak sekarang !!” . Padahal saat itu, hal
tersebut tidak mungkin kami lakukan karena seluruh tubuh anak saya
terpasang mesin (Ada mesin ventilator, ada mesin saturasi
Oksigen/Jantung, ada infus, ada selang Sonde/makanan
, dsb)

Pernah seorang anggota Tim dokter yang didatangkan dari RS “C”, yaitu
dr.”I” ahli syaraf, setelah memeriksa anak saya mengatakan, “Penyakitnya
malah dari RS ini semua, ya !!”, Setelah masa perawatan 2 minggu
tersebut timbul berbagai komplikasi; mata anak saya buta/tidak bisa
melihat (menurutnya mungkin bisa sembuh karena anak saya masih bayi),
Infeksi paru, memar di kepala, badan kaku/keras, padahal pertama kali
masuk RS anak saya “hanya”
sakit Panas. Kemudian dr “I” juga bilang ” tadi saya coba lepas alat
Ventilatornya agak lama, anak bapak bagus kok, dia sudah bisa bernafas
sendiri “. Saya bersyukur berarti ada kemajuan pikir saya ketika itu.

Awal minggu ke tiga beberapa orang tim medis (ada beberapa dokter dan
beberapa suster), mencoba melepas alat bantu nafas/Ventilator (mungkin
setelah diberi masukan oleh dr. “I” dari RS “C”), di coba 1 jam, 2 jam,
3 jam dan seterusnya …. rupanya anak saya sudah bisa kembali bernafas
sendiri/normal. Namun karena Sumber penyakitnya belum diketahui maka Tim
medis beberapa kali melakukan penggantian Obat/anti biotik, diantaranya
Acyclovir, Delantin, Tegatrol, TieNam, Meronem (dua jenis yang tertulis
dibelakang katanya merupakan anti Biotik yang paling Ampuh/Mahal/Impor
dari Amerika
).

Minggu ketiga dan selanjutnya Panas kepala anak saya relatif stabil
(antara 36 – 38 derajat C), dan kondisinya relatif membaik “hanya” tinggal
matanya yang Buta dan badannya yang kaku (sendi-sendinya tidak bisa
ditekuk), namun pengambilan darah masih dilakukan secara berkala, dan
hampir setiap hari dilakukan Terapi Fisioteraphy (Penyinaran dan pemijatan). Sehingga akhir minggu ke tiga semua Infus telah dicopot, oksigen dicopot, hanya tinggal selang Sonde (Selang makanan/di mulut) yang masih terpasang.

Saya dan Istri (serta keluarga besar kami), terus berdoa setiap hari
untuk kesehatan anak kami satu-satunya, sampai pada pertengahan minggu
ke empat, dr. “I” (Specialis syaraf dari RS “C”) bilang anak kami boleh
di bawa pulang, namun minimal harus sehari masuk ke ruang perawatan
biasa dahulu (sesuai prosedur RS “B”). Dan menurut dokter “I” juga, anak
kami hanya cukup rawat jalan ke RS “C”, untuk berobat ke dr. “I” dan dr.
“L” (specialis tumbuh kembang/penyembuhan tubuh anak saya yang masih
kaku-kaku). Setelah sehari berada di ruang perawatan biasa, dan tidak
ada masalah kami membawa anak kami pulang dengan membawa dua macam obat
(Anti kejang dan anti Virus), dan sebelum pulang, lagi-lagi anak kami
diambil kembali darahnya oleh RS untuk pemeriksaan penyebab penyakit
anak kami, setelah itu barulah kami diperbolehkan pulang.

Namun tidak sampai 2 hari anak kami di Rumah, kami/keluarga lupa akan
luka dibelakang kepalanya (akibat perawatan yang lalai sebelumnya) yang
masih belum sembuh total, lukanya terlihat memar/merah/agak bengkak/dan
mungkin infeksi, yang mungkin juga membuat anak kami panas lagi/karena
infeksinya, Panasnya kembali naik sampai 40 derajat C lebih, bahkan
ketika akan kami beri obat (yang kami bawa dari RS), anak kami muntah
hingga lemas, lalu tanpa banyak pikir lagi walaupun pada saat itu jam 02
pagi, kami kembali membawa anak kami ke RS “B” Cikini dan kembali kami
mengalami kekesalan, anak kami diperlakukan layaknya seperti pasien yang
baru masuk RS. Anak kami kembali masuk ICU, kembali harus Infus, puasa,
diambil darahnya lagi (meskipun titik venanya sudah habis/tidak ada
tempat lagi untuk infus/periksa darah, dan saya juga telah sampaikan
mungkin panasnya akibat luka dibelakang kepalanya yang belum
sembuh/infeksi), padahal saya sudah protes terhadap dr. jaga pada saat
itu bahwa anak saya sebelumnya sudah dirawat hampir sebulan di RS
tersebut, dan hasil lab. terakhirnya juga baru kemarin saya ambil dengan
hasil “negatif”, juga saya kemukakan mengenai luka dibelakang kepalanya
yang harus diprioritaskan pengobatannya. Namun karena dr. terus
mengemukakan argumennya, akhirnya kami mengalah dan menyerahkan
sepenuhnya apapun yang akan dilakukan oleh dr. Dan kembali anak saya
dipakaikan selang Oksigen ke hidungnya , lalu dengan alasan “saturasi”
nafasnya terus menurun, Tim medis berencana untuk memasang kembali mesin
Ventilator pada anak saya, dengan sebelumnya meminta persetujuan saya
lagi untuk diambil darahnya sebelum pemasangan mesin tersebut (padahal
ketika itu kondisinya terlihat pucat/kuning seperti telah kehabisan
darah). Kembali dengan berat hati dan berharap Tim Medis melakukan
tindakan yang “benar”
untuk anak saya, saya kembali menyetujuinya. Namun belum sempat mesin
itu dipasang, belum sempat hasil lab I dan ke II (pengambilan darah pada
pada hari itu) ada hasilnya, akhirnya anak saya dipanggil oleh yang Maha
Kuasa …… anak saya mengalami Gagal Nafas dan dinyatakan Meninggal
oleh pihak RS, walau saat itu saya pegang denyut Nadi di leher/bawah
dagunya masih ada (walau lemah), sewaktu kami minta untuk terus memompa
alat bantu nafas manualnya, Dokter/suster yang ada pada saat itu sudah
lepas tangan dan tidak melakukan tindakan apapun juga. Akhirnya dengan
Ikhlas, didepan mata kepala saya dan istri saya, anak kami melepaskan
nyawanya tanpa kami bisa berbuat apapun juga ( Selasa 12 April 2005 Jam
23.25 wib). Akhirnya Anak kami meninggal dengan sebab bukan karena
penyakitnya (Panas), menurut kami “kemungkinan” karena gagal
nafas/Infeksi paru atau malah “mungkin” karena terlalu lemah kehabisan
darah.

Innalillahi Wa inna illaihi roji’un selamat jalan Permata hatiku,
……..
doa kami ‘kan selalu menyertaimu…Amin

Dan tidak lupa saya & keluarga mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada rekan-rekan yang telah memberikan suport baik
moril, materil maupun spirituil kepada saya dan keluarga, semoga segala
kebaikan rekan-rekan akan dibalas dengan pahala yang berlipat-lipat oleh
Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin.

Salam,

Istriyanto & Keluarga

Note :

Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Ilmu Kedokteran dan tenaga medis,
sesuai dengan pengalaman berharga dan mahal yang telah saya alami, maka
kami mencoba mengambil kesimpulan (Setelah kami juga mendengar dari
sesama Pasien RS, rekan/sahabat, tetangga, saudara yang sempat bezuk dan
mengatakan pada saya, selama dalam perawatan sampai saat Meninggalnya
anak saya) sbb:

1. Banyak kasus penyakit bayi/balita yang timbul setelah mereka disuntik
imunisasi.

– Pasien lain di RS yang sama mengatakan pada saya, anak saudaranya
sampai dengan usia 2 tahun belum pernah suntik Imunisasi Hepatitis
namun, setelah ada dokter (spesialis anak) yang tahu, lalu disarankan di
imunisasi Hepatitis, kemudian tidak lama setelah itu akhirnya anak
saudaranya positif terkena Hepatitis akut, dan harus bolak-balik berobat
ke dokter.

- Tetangga saya, sehabis Imunisasi campak, dua hari kemudian malah
terkena campak.

- Tetangga kami yang lain, anak pertamanya rutin diimunisasi, namun
fhisiknya malah lemah sering sakit-sakitan, sedangkan anak keduanya sama
sekali tidak pernah imunisasi namun malah sehat, hampir tidak pernah
sakit (kalaupun sakit cepat sembuh/ringan)

- Teman sekolah saya anaknya tidak pernah Imunisasi malah sehat, umur 10
bulan sudah lincah berjalan, dan juga boleh dibilang tidak pernah sakit
(kalaupun sakit hanya ringan saja).

- dan banyak lagi kasus-kasus serupa yang tidak mungkin saya tulis satu
persatu.

2. Menurut saya, Jika bisa Hindari Imunisasi, kalaupun perlu/terpaksa
pilihlah imunisasi yang pokok saja (bukan imunisasi lanjutan/yang
aneh-aneh) alasannya :

- Kita “Mendzolimi”, anak kita sendiri yang memang sedang masa
pertumbuhan dan pertahanan tubuhnya masih lemah, malah kita suntikan
penyakit (walaupun sudah dilemahkan) ke tubuhnya.

- Kita tidak pernah tahu kondisi anak kita sedang benar-benar sehat atau
tidak, karena terutama anak yang masih di bawah 1 tahun biasanya belum
bisa bicara mengenai kondisi badannya, sedangkan imunisasi harus
dilakukan pada bayi/balita yang sehat (tidak sedang lemah
fisiknya/sakit).

- Sesudah kita memasukan penyakit ke tubuh anak kita, biasanya kita juga
harus mengeluarkan banyak biaya. (Jasa dokter/RS, harga imunisasi, dsb),

- Tidak ada jaminan (Dokter/RS/puskesmas) apabila setelah imunisasi anak
kita bebas dari penyakit yang telah dimasukan ketubuhnya. Contoh nyata
yang terjadi pada anak saya, padahal anak saya sudah 2 kali imunisasi
HIB ketika berusia +/- 5 dan 7 bulan ), padahal sebelumnya dokter
bilang imunisasi HIB untuk menghindari penyakit Radang Otak, namun
nyatanya anak saya malah meninggal akibat penyakit Radang Otak.

- Menurut seorang rekan yang pernah membaca Literatur terbitan Prancis,
justru Imunisasi sudah tidak populer di Amerika Serikat, dan terus
berusaha dihilangkan dan tidak dipergunakan lagi, bahkan di Israel
Imunisasi telah di STOP samasekali, padahal kita tahu negara-negara itu
merupakan pelopor “industri”, imunisasi.

- Menurut pengalaman saya jumlah kadar/isi setiap pipet/tabung imunisasi
semua sama, jadi imunisasi tidak melihat berdasarkan berat
tubuh/perbedaan Ras/warna kulit, padahal kalau Obat/Imunisasi itu Impor,
tentulah kadarnya disesuaikan dengan berat/fisik orang Luar (Barat) yang
jelas lebih basar dan kuat fisiknya dibanding orang Asia, namun kita
malah sama-sama menggunakan dengan takaran yang sama. (akibatnya
overdosis).

3. Jika tidak “urgent” sekali, hindari rawat inap di RS, karena banyak
prosedur/step-step pengobatan yang akhirnya akan melemahkan tubuh
pasiennya.
(Contoh: keharusan berpuasa, pemasangan infus, pengambilan darah yang
terus menerus, foto Rontgen, operasi, kemoteraphy, dsb). Jikalau perlu
coba dulu dengan cara pengobatan alternatif/tradisional.

4. Jika perlu dengan tegas untuk menolak suatu tindakan medis yang akan
dilakukan RS, jika kita yakini manfaatnya tidak benar-benar berpengaruh
terhadap kesembuhan pasien.

5. Jika perlu lakukan 2nd opinion pada RS/dokter lain yang setara/lebih
baik.

6. Banyak tanya, biarlah kita dibilang “bawel”, tanyalah setiap tindakan
medis yang akan dilakukan, mengapa akan di lakukan, akibat-akibatnya,
ada tidak cara-cara lain/alternatif lain yang lebih baik/tidak terlalu
menyakiti pasien.

7. Terus temani pasien (bisa bergantian dengan keluarga yang lain),
karena setiap saat bisa ada tindakan medis yang memerlukan persetujuan,
dan cermati semua pekerjaan perawatannya, jika ada yang habis/kurang
jangan sungkan melaporkan ke tenaga medis yang ada segera.

8. Terus berdoa, karena segala sesuatunya telah ditetapkan oleh “Yang
Maha Kuasa”, manusia hanya bisa ikhtiar dan berusaha.

http://sejahterahabadi.blogspot.com/2011/01/bahaya-imunisasi-bagi-anak-anda.html

2 Comments (+add yours?)

  1. Dede darma
    Mar 14, 2011 @ 18:52:25

    Mendengar kisah ini hati saya terasa pilu,sungguh suatu kesabaran yang luar biasa.Allah menyayangi orang yg bersabar.berbahagialah anda sesungguhnya berkat kesabaran dan keikhlasan anda dalam menerima tanggung jawab.maka Insya Allah derajad anda ditinggikan di sisi-Nya amin.kesedihan adalah fitrah manusia.hanya orang yg berhati nurani yg mengerti.kita di ciptakan Allah untuk saling mengasihio.bukan menzalimi.semoga pengalaman ini.menjadi pelajaran berharga untuk kita semua.ambil hikmahnya,buang amarahnya.

    Reply

  2. umirohmah
    Feb 28, 2012 @ 08:54:44

    innalillahi wa inna illahi roji’un. ana bc dr awal akhirnya ndak bs menahan air mata . SMG sang anak akan menemui abi n uminya di syurga.betapa pilunya melihat anak yg di ambil darahnya berkali kali. mudah”an ALLOH memberi kesabaran pd antum tabah menghadapi smu cobaan ini..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: